Monday, 16 July 2018


--------------------------------------------------------------------------------------------------------
III.  Apakah Amal Ibadah Tidak Menyelamatkan? (9)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin Anda yang beragama Muslim akan berkata, bukankah amal dan ibadah dapat menjamin masuk sorga? Umat Muslim percaya, ketika hari penghakiman tiba, maka setiap dosa dan pahala akan ditimbang. Bagi timbangannya lebih berat di pahala, maka dia masuk sorga, bila sebaliknya, maka nerakalah tempatnya.(10)
Andai memang benar demikian, apakah Anda yakin pahala anda lebih berat dibanding dosa-dosa Anda? (11) Ingat, firman Allah dalam Kitab Suci-Nya berkata, “ Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat ” (Injil, Rasul Besar Matius 15:18-19)(12) Yang menajiskan seseorang,(13) bukan hanya perbuatannya yang salah. Tetapi juga apa yang dia pikirkan, telah menajiskannya di hadapan Allah. Bila demikian adanya, masihkah kita dapat mengatakan “pahalaku dapat menyelamatkanku?”(14)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
(9) “AMAL” itu merupakan satu kesatuan dari tiga komponen. (Tapi bukan  T r i n i t a s). Komponen itu terdiri dari: Hati – Perkataan – Perbuatan. Manusia dicipta oleh Allah Swt, hadir dimunculkan di muka bumi ini, tujuan penciptaannya untuk “mengabdi” kepada Allah Swt. Dalam rangka itulah manusia beramal. Amal-Ibadah itu, memang, ternyata ada dua macam berdasarkan cara pengamalan yang dilakonkan oleh manusia. Yaitu amal-ibadah yang hanya diperhadapkan kepada Allah Swt, sesuai tuntunanNya. Inilah yang disebutkan dalam Qur’an Surah AlFatihah (  إِ يَّاكَ نَعْـبـدُ وَ إِ يَّكَ نَسـتَـعِـين  ) .  Sangat mengherankan jika anda tidak memahami ayat ini padahal anda menerbitkan bulletin ISA dan ALFATIHAH.
            Ada pula amal-ibadah yang diperhadapkan kepada selain Allah Swt. Menurut ajaran Aqidah Islam bahwa amal-ibadah yang diperhadapkan kepada selain Allah Swt, itu, tertolak. Tidak diterima oleh Allah Swt. Nah !! ketahuilah bahwa amal-ibadah yang demikian inilah yang tidak menyelamatkan. 
(10)Timbangan amal itu diberlakukan di hari penghakiman, untuk semua manusia tanpa terkecuali. Timbangan amal berfungsi sebagai alat pembuktian yang dipersaksikan dihadapan masing-masing ummat manusia. Dengan timbangan amal itu akan ada orang yang wajahnya berseri-seri karena melihat timbangan bobot amalnya, tetapi ada juga orang yang wajahnya pucat melihat timbangan bobot amalnya.  Ada yang berat di pahala dan ada yang berat di dosa.
(11)      Bagi Ummat Muslim, berniat dengan ikhlas karena Allah, untuk melakukan suatu kebajikan, amal-ibadah, dengan penuh kesadaran, sudah tercatat dan dapat pahala. (Niyat saja sudah dapat pahala). Apalagi bila dilaksanakan, diberi imbalan 10x lipat. Tetapi jika berniyat berbuat jahat namun tidak dilaksanakan, (hanya niyat saja), maka belum dapat balasan dosa. Namun jika niyat itu ditindak lanjuti dengan perbuatan jahat, barulah akan tercatat dan dapat balasan (dosa) sesuai perbuatannya.
            Oleh karena itu seorang Muslim yang tha’at menjalankan agamanya, bobot pahalanya bisa lebih besar daripada bobot dosanya. Apalagi Kalau bertaubat dengan sungguh-sungguh mengikuti tuntunan syariat, maka bobot dosanya di dunia ini menjadi ringan, bahkan dapat terhapus atas kehendak Allah Swt.  Itulah Jaminan Keselamatan bagi Muslim yang akan diterimanya di hari kemudian.  
(12)  Kalau memang hanya berdasarkan satu ayat ini saja, yang dibaca, maka agak aneh pengertiannya, apakah hati tiada kebaikannya?? sehingga dikatakan " dari hati timbul segala pikiran yang jahat".  Ayat ini terutama memang berlaku untuk anda beserta kelompok dan pengikutnya. Tetapi Mana teks aslinya. Jangan Cuma pakai bahasa Indonesia. Tunjukkan melalui dunia maya agar setiap orang dapat membaca dan melihatnya. Kalau hanya berbahasa Indonesia, atau berbahasa Inggeris, kita juga punya, hingga BARNABAS juga kita punya.  
(13)      Seseorang disebut “najis” itu karena aqidahnya yang “syirik”. Yakni menyekutukan atau menyerupakan sesuatu dengan Allah Swt,. Menurut aqidah Islam syirik itu bisa bersumber dari ungkapan dalam hati; perkataan/ucapan lisan maupun tulisan; juga dari perbuatan. Contoh : menyebut kalimat “anak-Allah” itu adalah syirik. Orangnya disebut “Musyrik”. Orang Musyrik itu Najis. Sebagaimana Firman Allah Swt.,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
(Qs.9/28).”Wahai orang-orang yang ber-iman, sesungguhnya orang Musyrik itu najis.”
Syirik itu adalah Dosa yang tiada ampunannya.

 اللّهَ لاَيَغْفِرُأَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُمَادُون ذَلِكَ لمَن يَشَاءُ
وَمَن يُشْرِكْ بِاللّه فَقَدْضَلَّ ضَلاَلاًبَعِيداً --
(Qs.4:116)      Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, ............. Barang siapa yang berbuat syirik mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia telah tersesat jauh sekali”.
 “Indeed, Allah does not forgive association with Him,........... And he who associates others with Allah has certainly gone far astray”.
Tidak ada jaminan keselamatan bagi musyrikin. Ini adalah Rumusan Tauhid Islam, Ke-Esaan Allah.   

(14) Pernyataan itu memang pas untuk anda dan kelompoknya. “Pahala” itu adalah balasan atas amal baik seseorang siapa saja. Demikian pula “Dosa” adalah sebutan terhadap “imbalan” atas perbuatan yang buruk dari seseorang.
Di hari penghakiman nanti semuanya akan diperlihatkan dan dipertanggung jawabkan masing-masing. Setiap orang pasti akan mempertanggung jawabkan amal dari hasil usahanya, yang baik menghasilkan pahala maupun yang buruk mendapatkan dosa.
Pahala yang diterima seseorang atas hasil usahanya di dunia, yang dilaksanakan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dengan kebersihan hati, tanpa kemunafikan, tanpa kemusyrikan, tanpa kekafiran, dan tanpa kemurtadan, atas Ridha Allah Swt., pasti akan menjadi jaminan keselamatan di hari kemudian, berlaku bagi setiap orang Muslim.