--------------------------------------------------------------------------------------------------------
III.
Apakah Amal Ibadah Tidak Menyelamatkan? (9)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin Anda yang beragama
Muslim akan berkata, bukankah amal dan ibadah dapat menjamin masuk sorga? Umat Muslim percaya, ketika hari
penghakiman tiba, maka setiap dosa dan pahala akan ditimbang. Bagi timbangannya
lebih berat di pahala, maka dia masuk sorga, bila sebaliknya, maka nerakalah
tempatnya.(10)
Andai memang benar demikian, apakah Anda yakin pahala
anda lebih berat dibanding dosa-dosa Anda? (11) Ingat,
firman Allah dalam Kitab Suci-Nya berkata, “ Tetapi apa yang keluar
dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati
timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian,
sumpah palsu dan hujat ” (Injil, Rasul Besar Matius 15:18-19)(12) Yang menajiskan seseorang,(13) bukan hanya perbuatannya yang salah. Tetapi juga apa
yang dia pikirkan, telah menajiskannya di hadapan Allah. Bila demikian adanya,
masihkah kita dapat mengatakan “pahalaku dapat menyelamatkanku?”(14)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
(9) “AMAL” itu merupakan satu
kesatuan dari tiga komponen. (Tapi bukan T r i n i t a s). Komponen itu terdiri dari:
Hati – Perkataan – Perbuatan. Manusia dicipta oleh Allah Swt, hadir dimunculkan
di muka bumi ini, tujuan penciptaannya untuk “mengabdi” kepada Allah Swt. Dalam
rangka itulah manusia beramal. Amal-Ibadah itu, memang, ternyata ada dua macam
berdasarkan cara pengamalan yang dilakonkan oleh manusia. Yaitu amal-ibadah yang
hanya diperhadapkan kepada Allah Swt, sesuai tuntunanNya. Inilah yang disebutkan
dalam Qur’an Surah AlFatihah ( إِ يَّاكَ نَعْـبـدُ وَ إِ يَّكَ
نَسـتَـعِـين ) .
Sangat mengherankan jika anda tidak
memahami ayat ini padahal anda menerbitkan bulletin ISA dan ALFATIHAH.
Ada pula
amal-ibadah yang diperhadapkan kepada selain Allah Swt. Menurut ajaran Aqidah Islam
bahwa amal-ibadah yang diperhadapkan kepada selain Allah Swt, itu, tertolak.
Tidak diterima oleh Allah Swt. Nah !! ketahuilah bahwa amal-ibadah yang
demikian inilah yang tidak menyelamatkan.
(10)Timbangan amal itu diberlakukan
di hari penghakiman, untuk semua manusia tanpa terkecuali. Timbangan amal berfungsi
sebagai alat pembuktian yang dipersaksikan dihadapan masing-masing ummat
manusia. Dengan timbangan amal itu akan ada orang yang wajahnya berseri-seri karena
melihat timbangan bobot amalnya, tetapi ada juga orang yang wajahnya pucat
melihat timbangan bobot amalnya. Ada
yang berat di pahala dan ada yang berat di dosa.
(11) Bagi
Ummat Muslim, berniat dengan ikhlas karena Allah, untuk melakukan suatu
kebajikan, amal-ibadah, dengan penuh kesadaran, sudah tercatat dan dapat
pahala. (Niyat saja sudah dapat pahala). Apalagi bila dilaksanakan, diberi
imbalan 10x lipat. Tetapi jika berniyat berbuat jahat namun tidak dilaksanakan,
(hanya niyat saja), maka belum dapat balasan dosa. Namun jika niyat itu
ditindak lanjuti dengan perbuatan jahat, barulah akan tercatat dan dapat
balasan (dosa) sesuai perbuatannya.
Oleh karena itu seorang Muslim yang
tha’at menjalankan agamanya, bobot pahalanya bisa lebih besar daripada bobot
dosanya. Apalagi Kalau bertaubat dengan sungguh-sungguh mengikuti tuntunan syariat,
maka bobot dosanya di dunia ini menjadi ringan, bahkan dapat terhapus atas
kehendak Allah Swt. Itulah Jaminan
Keselamatan bagi Muslim yang akan diterimanya di hari kemudian.
(12) Kalau memang hanya berdasarkan satu ayat ini saja, yang dibaca, maka agak aneh pengertiannya, apakah hati tiada kebaikannya?? sehingga dikatakan " dari hati timbul segala pikiran yang jahat". Ayat
ini terutama memang berlaku untuk anda beserta kelompok dan pengikutnya. Tetapi
Mana teks aslinya. Jangan Cuma pakai bahasa Indonesia. Tunjukkan melalui dunia
maya agar setiap orang dapat membaca dan melihatnya. Kalau hanya berbahasa
Indonesia, atau berbahasa Inggeris, kita juga punya, hingga BARNABAS juga kita
punya.
(13) Seseorang
disebut “najis” itu karena aqidahnya yang “syirik”. Yakni menyekutukan atau
menyerupakan sesuatu dengan Allah Swt,. Menurut aqidah Islam syirik itu bisa
bersumber dari ungkapan dalam hati; perkataan/ucapan lisan maupun tulisan; juga
dari perbuatan. Contoh : menyebut kalimat “anak-Allah” itu adalah syirik. Orangnya
disebut “Musyrik”. Orang Musyrik itu Najis. Sebagaimana Firman Allah Swt.,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا
الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
(Qs.9/28).”Wahai orang-orang yang ber-iman, sesungguhnya
orang Musyrik itu najis.”
Syirik itu adalah Dosa yang
tiada ampunannya.
اللّهَ
لاَيَغْفِرُأَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُمَادُون ذَلِكَ لمَن يَشَاءُ
وَمَن
يُشْرِكْ بِاللّه فَقَدْضَلَّ ضَلاَلاًبَعِيداً --
(Qs.4:116) Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
syirik, ............. Barang siapa yang berbuat syirik mempersekutukan sesuatu
dengan Allah, maka dia telah tersesat jauh sekali”.
“Indeed, Allah does not forgive association
with Him,........... And he who associates others with Allah has certainly gone
far astray”.
Tidak ada jaminan keselamatan
bagi musyrikin. Ini adalah Rumusan Tauhid Islam, Ke-Esaan Allah.
(14) Pernyataan itu memang pas untuk
anda dan kelompoknya. “Pahala” itu adalah balasan atas amal baik seseorang
siapa saja. Demikian pula “Dosa” adalah sebutan terhadap “imbalan” atas perbuatan
yang buruk dari seseorang.
Di hari penghakiman nanti semuanya akan diperlihatkan dan
dipertanggung jawabkan masing-masing. Setiap orang pasti akan mempertanggung
jawabkan amal dari hasil usahanya, yang baik menghasilkan pahala maupun yang buruk
mendapatkan dosa.
Pahala yang diterima seseorang atas hasil usahanya di
dunia, yang dilaksanakan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dengan kebersihan
hati, tanpa kemunafikan, tanpa kemusyrikan, tanpa kekafiran, dan tanpa
kemurtadan, atas Ridha Allah Swt., pasti akan menjadi jaminan keselamatan di
hari kemudian, berlaku bagi setiap orang Muslim.